“Arsitek dan Pembangun”
Brouwer memberi nama yang sangat tepat untuk periode 1904–1923: Architect en Bouwer — “Arsitek dan Pembangun.”
Sebab pada periode ini pekerjaan Kruyt tidak lagi sekadar membuka jalan.
Ia mulai membangun sistem.
Yang paling penting adalah gagasannya mengenai kepemimpinan lokal.
Kruyt menyadari bahwa gereja di Sulawesi Tengah tidak mungkin selamanya dipimpin oleh orang Minahasa atau orang Belanda. Jika gereja itu ingin benar-benar menjadi milik masyarakat setempat, maka harus lahir guru dan pemimpin dari kalangan orang Toraja sendiri.
Karena itulah pada 1912 ia mengambil tanggung jawab atas pendirian dan pengelolaan kweekschool, sekolah untuk mendidik calon guru dan pemimpin lokal di Pendolo. Para siswa tidak hanya belajar membaca, berhitung, geografi dan pengetahuan umum, tetapi juga tetap bekerja di ladang, bertukang, menanam, mengurus sawah dan melakukan pekerjaan yang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Gagasannya sangat jelas: pendidikan tidak boleh mencabut seorang pemuda dari masyarakatnya.
Mereka harus menjadi terdidik tanpa kehilangan hubungan dengan tanah tempat mereka berasal.
Dan pada 1916, lulusan pertama dari sekolah tersebut mulai ditempatkan sebagai guru Toraja. Kruyt melihatnya sebagai keberhasilan penting, sebab untuk pertama kalinya orang-orang dari masyarakat sendiri mulai mengambil peran sebagai tenaga pendidikan dan gereja.
Di sinilah salah satu gagasan terpenting buku ini muncul: kemandirian tidak dapat diberikan dari luar; ia harus dipersiapkan dari dalam.






