Bahasa sebagai pintu pertama
Ketika akhirnya tiba di wilayah Gorontalo dan kemudian bersiap memasuki Poso, Kruyt segera menemukan bahwa musuh pertamanya bukanlah agama lama, bukan kepala suku, bahkan bukan medan yang berat.
Musuh pertamanya adalah bahasa.
Di Gorontalo ia belajar bahasa setempat karena bahasa Melayu yang dikuasainya tidak cukup untuk menjangkau penduduk asli. Ketika menuju Poso, ia semakin menyadari bahwa pekerjaan misionaris tanpa penguasaan bahasa lokal akan menjadi pekerjaan yang dangkal.
Pada 1892, ketika untuk pertama kalinya berdiri di antara orang-orang Poso, ia bahkan belum dapat berbicara dengan lancar. Namun justru dari kesulitan itu lahir salah satu warisan terbesar Kruyt.
Ia mulai menyusun kosakata, mempelajari struktur bahasa, mencatat istilah dan mencari padanan untuk gagasan-gagasan yang sebelumnya tidak memiliki tempat dalam perbendaharaan katanya.
Ada satu bagian yang sangat kuat. Ketika hendak menyampaikan kisah penciptaan dalam bahasa Poso untuk pertama kalinya, Kruyt merasakan betapa berat tugas itu. Ia menyadari bahwa sebelum berbicara tentang Injil, ia harus terlebih dahulu menemukan kata-kata untuk kasih, pengampunan, damai, ketenangan, dosa, harapan.
Di titik itu, bahasa bukan lagi sekadar alat komunikasi.
Bahasa menjadi jalan menuju pikiran manusia.
Dan kelak, penelitian bahasa tersebut membuat Kruyt dan koleganya, N. Adriani, menghasilkan karya besar mengenai masyarakat dan bahasa Toraja. Bibliografi buku memperlihatkan bahwa sejak 1893 Kruyt telah menerbitkan Grammaticale Schets van de Bare’e-taal, kemudian Woordenlijst van de Bare’e-taal, dan bersama Adriani menghasilkan De Bare’e sprekende Toradja’s van Midden Celebes pada 1910–1912.






