Bagaimana buku ini harus dibaca hari ini?
Di sinilah Dienaar der Toradja’s membutuhkan pembacaan yang lebih kritis daripada sekadar kekaguman.
Brouwer menulis buku ini dari perspektif seorang misionaris. Tujuannya jelas: membangun penghormatan terhadap Kruyt dan menunjukkan keberhasilan hidupnya sebagai pelayan gereja. Bahkan pada bagian penutup, Brouwer menafsirkan seluruh karya Kruyt sebagai bentuk pelayanan kepada Tuhan dan masyarakat Toraja.
Karena itu, masyarakat Toraja dalam buku ini sering dilihat melalui pertanyaan yang berangkat dari misi: bagaimana mereka menerima Injil, bagaimana adat menghalangi atau mendukung perubahan, dan bagaimana masyarakat dapat dibawa menuju gereja Kristen.
Perspektif seperti itu tentu tidak cukup untuk menggambarkan masyarakat Toraja secara utuh.
Suara masyarakat lokal dalam buku ini masih banyak hadir melalui catatan Kruyt, bukan sebagai suara penulis yang berdiri sendiri. Di sinilah jarak kolonialnya harus selalu diingat.
Namun justru karena itu, buku ini menjadi dokumen sejarah yang sangat berharga.
Ia memperlihatkan dunia Sulawesi Tengah pada masa ketika pemerintah kolonial baru memperluas kekuasaannya, ketika masyarakat lokal masih memiliki struktur politik dan adat yang kuat, ketika perjalanan antarkawasan membutuhkan berhari-hari bahkan berminggu-minggu, dan ketika bahasa lokal belum banyak didokumentasikan secara tertulis.
Buku ini juga memperlihatkan bagaimana sebuah wilayah mengalami transformasi dari masyarakat yang relatif terisolasi menjadi masyarakat yang terhubung oleh sekolah, jalan, pemerintahan, agama, perdagangan dan pengetahuan ilmiah.






