Pensiun yang tidak pernah benar-benar menjadi pensiun
Judul bab keenam buku ini terasa seperti sebuah ironi: Rustend Zendeling zonder Rust, “Misionaris Pensiun yang Tidak Pernah Beristirahat”.
Memang demikian.
Di Belanda, Kruyt terus mengajar calon misionaris, memberikan ceramah, menghadiri pertemuan, menulis, dan terutama mengolah catatan etnologinya.
Ia terus menulis tentang masyarakat Sulawesi Tengah.
Ia terus membaca surat.
Ia terus mengikuti perkembangan gereja yang dahulu dibangunnya.
Dan pada 1938, lahirlah karya besarnya tentang West-Toradja’s.
Yang menarik, pada masa tua itu Kruyt mulai melihat perjalanan hidupnya dengan perspektif yang lebih luas. Ia menyadari bahwa perubahan yang terjadi di Sulawesi Tengah bukan hanya perubahan agama.
Masyarakat telah berubah.
Desa-desa di bukit dipindahkan. Struktur komunal mengalami keretakan. Pemerintah kolonial membawa sistem baru. Sekolah memperkenalkan pengetahuan baru. Kekristenan menciptakan jaringan baru antarkampung.
Ia bahkan menyadari bahwa apa yang terjadi di Poso adalah sebuah miniatur dari proses sejarah yang jauh lebih besar: perjumpaan antara dunia lama dan dunia Barat.






