Kruyt, Adriani dan ekspedisi ke pedalaman
Jika bagian awal buku adalah kisah seorang misionaris yang mencoba bertahan, maka pada pergantian abad kisahnya berubah menjadi cerita ekspedisi.
Kruyt dan Adriani melakukan perjalanan ke Loewoe, Todjo, Sigi, Lindoe, Mori, Napoe, Bada, Wotoe, dan berbagai kawasan lainnya. Mereka tidak sekadar mencari tempat untuk mendirikan sekolah atau pos misi.
Mereka mengukur, memetakan dan mencatat.
Dan perjalanan mereka tidak selalu berlangsung nyaman. Dalam perjalanan menuju Lindoe, misalnya, mereka menghadapi penolakan, ditipu, kehilangan barang dan terpaksa mengubah rute. Namun mereka tetap berusaha mengumpulkan data mengenai wilayah dan masyarakat yang mereka temui.
Dalam perjalanan ke Mori, mereka bahkan berhadapan dengan kecurigaan bahwa mereka adalah mata-mata. Untuk memperoleh izin melanjutkan perjalanan, mereka harus meyakinkan penguasa setempat bahwa mereka datang bukan untuk melakukan sesuatu yang merugikan.
Perjalanan-perjalanan itu menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada tujuan awalnya.
Peta dan pengetahuan tentang masyarakat Sulawesi Tengah mulai terbentuk.
Kruyt menggunakan kompas, sextant, jam dan alat ukur untuk memetakan Danau Poso. Mereka juga melakukan pengukuran terhadap wilayah lain. Bersama Adriani, ia mengumpulkan keterangan mengenai sejarah, bahasa, legenda, mitologi, adat dan kehidupan sosial masyarakat.
Dalam proses itulah seorang zendeling berubah menjadi etnolog.






