Pemuda Belanda yang dikirim ke Poso
Kruyt lahir dalam keluarga yang memiliki tradisi misioner sangat kuat. Ayahnya, Johannes Kruyt, adalah seorang zendeling di Jawa. Dari tujuh bersaudara, enam kemudian terhubung dengan dunia misi. Lingkungan keluarganya membuat gagasan menjadi misionaris tumbuh bukan sebagai pilihan yang tiba-tiba, melainkan hampir seperti jalan hidup yang telah tersedia di hadapannya.
Namun perjalanan menuju Sulawesi tidak berlangsung tanpa pergulatan.
Saat menjalani pendidikan untuk menjadi zendeling, Kruyt mengalami krisis iman. Ia membaca berbagai buku teologi, berdiskusi dengan para pendeta dan mahasiswa teologi, bahkan mempertanyakan apakah dirinya sungguh-sungguh dapat menjadi seorang misionaris. Pertanyaan seperti “Apa yang harus saya percayai?” dan “Dapatkah saya menjadi zendeling?” menjadi bagian dari pergulatan batinnya.
Di sinilah Brouwer mulai membangun karakter tokohnya. Kruyt bukan seorang manusia yang sejak lahir telah memiliki keyakinan tanpa retak. Ia pernah ragu, tersesat, membaca terlalu banyak dan mencoba mencari jawaban.
Justru pengalaman itulah yang kemudian membuatnya menjadi seorang pekerja lapangan yang tidak tergesa-gesa menghakimi.
Satu hal yang sangat menentukan dalam pembentukannya adalah perjumpaan dengan etnologi. Ia belajar dari G. J. Wilken dan mulai memahami bahwa seorang misionaris harus mengenali masyarakat yang dihadapinya. Ia tidak cukup hanya membawa kitab suci; ia harus memahami bahasa, cara berpikir dan dunia sosial orang yang akan diajaknya berbicara.
Kelak prinsip itu menjadi ciri khas Kruyt.
Ia tidak ingin berbicara kepada orang Toraja dari kejauhan.
Ia ingin masuk ke dunia mereka.






