Dokter tanpa gelar dokter
Ada sisi lain dari Kruyt yang membuat kisahnya semakin menarik.
Ia bukan dokter, tetapi memiliki pengetahuan medis yang cukup untuk memberikan pertolongan kepada penduduk. Pengetahuan tersebut telah diperolehnya sejak masa pendidikan di Belanda, ketika ia mengikuti praktik di rumah sakit dan belajar diagnosis.
Di Poso, kemampuan itu menjadi pintu masuk yang jauh lebih efektif daripada khotbah.
Orang-orang datang membawa luka, penyakit dan berbagai keluhan. Kruyt memberikan obat dan perawatan. Dari hubungan antara orang sakit dan orang yang mengobati itulah kepercayaan mulai tumbuh.
Pada satu kesempatan, ia bahkan menyaksikan langsung praktik seorang woerake, perempuan yang dipercaya memiliki kemampuan mengeluarkan penyakit atau kekuatan jahat dari tubuh seseorang. Bagi Kruyt, pengalaman semacam itu sekaligus menjadi kesempatan untuk memahami sistem kepercayaan masyarakat.
Dengan demikian, obat menjadi pintu menuju agama; agama menjadi pintu menuju kebudayaan; dan kebudayaan kemudian menjadi bahan penelitian.
Hubungan itu terus berulang sepanjang kehidupannya.
Ketika Injil ditolak
Buku Brouwer menjadi sangat menarik justru ketika menceritakan kegagalan.
Pada tahun-tahun awal, hampir tidak ada hasil spektakuler. Orang datang ke pertemuan bukan karena ingin menjadi Kristen. Kadang mereka datang karena kopi, gambir atau sekadar ingin menyenangkan hati Kruyt. Bahkan ada saat ketika tidak seorang pun datang.
Sekolah pun tidak langsung diterima.
Pada 1894, ketika sekolah pertama hendak dibuka, anak-anak yang diharapkan datang justru tidak muncul. Orang tua khawatir sekolah akan menjadikan anak-anak mereka alat pemerintah. Mereka takut anak-anak menjadi lebih pintar daripada orang tuanya. Ada pula kekhawatiran bahwa sekolah sebenarnya adalah pintu masuk agama Kristen.
Bagi masyarakat yang hidup dalam struktur adat yang kuat, sekolah bukan sekadar tempat belajar membaca dan menulis.
Sekolah berarti perubahan.
Dan perubahan selalu mengandung ancaman.
Kruyt membutuhkan bertahun-tahun untuk memahami hal tersebut.
Ia tidak hanya mendirikan sekolah, tetapi berusaha mencari cara agar sekolah tidak terasa sebagai lembaga asing. Di sebuah desa, guru bahkan menghindari penggunaan kata “sekolah” dan mengajak anak-anak bermain sambil mengenalkan huruf.
Pelajaran sejarah di sini menjadi sangat penting: modernisasi tidak selalu ditolak karena masyarakat anti-kemajuan. Kadang ia ditolak karena masyarakat tahu bahwa di balik sebuah institusi baru terdapat perubahan kekuasaan.






