Membaca kembali kisah A.C. Kruyt, misionaris, peneliti, dan saksi perubahan besar di tanah Poso
Pada suatu pagi, 18 Februari 1892, sebuah kapal meninggalkan Poso. Di tepian pantai tinggal seorang pemuda Belanda berusia 22 tahun, Albertus Christiaan Kruyt. Kapal itu membawa pergi orang-orang yang mengantarnya. Ia kini sendirian, dikelilingi sekitar seratus orang Poso yang belum benar-benar mengenalnya. Bahkan sebuah persoalan sederhana segera muncul: malam itu ia akan tidur di mana?
Tidak ada rumah yang telah disiapkan untuknya. Tidak ada kantor yang menunggunya. Jalan-jalan yang akan ditempuhnya belum tergambar jelas di peta. Bahasa penduduk masih merupakan teka-teki. Dan dunia yang hendak dimasukinya—masyarakat Toraja di pedalaman Midden-Celebes—belum mengenal apa yang sesungguhnya dibawa oleh pemuda itu.
Namun dari pantai Poso itulah sebuah perjalanan panjang dimulai.
Hampir empat puluh tahun kemudian, Kruyt akan meninggalkan Sulawesi Tengah sebagai seorang yang sama sekali berbeda. Ia bukan lagi pemuda yang berdiri canggung di tepian pantai, melainkan tokoh yang dikenal luas sebagai misionaris sekaligus etnolog, yang telah meneliti bahasa, adat, agama, sejarah, mitologi, struktur sosial, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Toraja. Bahkan setelah kembali ke Belanda, pikirannya masih tertambat pada tanah yang telah menjadi laboratorium kehidupannya.
Kisah panjang tersebut direkam dalam buku Dr. A. C. Kruyt: Dienaar der Toradja’s, karya Dr. K. J. Brouwer, yang diterbitkan oleh J. N. Voorhoeve, Den Haag, pada 1951. Judulnya dapat diterjemahkan sebagai Dr. A. C. Kruyt: Pelayan bagi Orang Toraja. Buku ini termasuk seri Fakkeldragers, kumpulan biografi tokoh-tokoh besar dalam dunia misi luar negeri. Brouwer secara khusus mempersembahkannya kepada Gereja Kristen Sulawesi Tengah, yang disebutnya sebagai gereja yang didirikan oleh Kruyt.
Tetapi membaca buku ini hanya sebagai kisah keberhasilan seorang misionaris akan terasa terlalu sederhana. Di antara halaman-halamannya tersimpan gambaran yang jauh lebih luas: tentang Poso sebelum modernisasi, tentang perjumpaan masyarakat pedalaman dengan pemerintah kolonial, tentang perubahan adat, tentang pendidikan dan kesehatan, tentang lahirnya penelitian etnologi di Sulawesi Tengah, dan akhirnya tentang tumbuhnya sebuah gereja yang perlahan-lahan bergerak menuju kemandirian.
Yang membuatnya semakin menarik, buku ini juga memperlihatkan sebuah paradoks sejarah: Kruyt datang sebagai orang Eropa yang membawa agama dan berada dalam lingkungan kolonial, tetapi sepanjang hidupnya justru semakin menyadari pentingnya bahasa, kebudayaan, kepemimpinan dan kemandirian orang-orang yang dilayaninya.
Catatan Penulis: Artikel ini adalah ulasan buku Dienaar der Toradja’s karya Dr. K. J. Brouwer, terbit di Den Haag oleh J. N. Voorhoeve pada 1951. Buku ini merupakan biografi tentang Dr. Albert C. Kruyt, tokoh misionaris dan etnolog yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya di Midden-Celebes, terutama wilayah Poso dan pedalaman Sulawesi Tengah. Penting Redaksi jelaskan, bahwa identifikasi sebagai Suku Toraja, atas suku-suku di pedalaman Pamona, Poso, termasuk sebagian Suku Kaili di pedalaman Sulawesi Tengah, kemudian dikoreksi oleh penelitian-penelitian selanjutnya. Jadi Suku Toraja yang dimaksud Kruyt dalam buku ini bukanlah dialamatkan pada Orang-orang Toraja yang mendiami Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa.






